Hubungan Morfologi dan Topografi Pada Proses Lateritisasi

Diposting oleh Selamat datang di blog on Jumat, 27 November 2015

Salah satu faktor yang berperan dalam proses  laterisasi adalah morfologi dan topografi, Bentuk morfologi suatu daerah sangat dipengaruhi oleh bentuk morfologi bawah permukaan khususnya morfologi batuan dasarnya.  Umumnya bijih (ore) terdapat pada zona saprolit dan sebagian kecil pada zona limonit, hal ini tergantung dari kadar yang terkandung pada zona tersebut. Dimana dalam laterit ini nantinya dapat ditentukan seberapa tebal bijih (ore)yang terdapat dalam laterit tersebut.

Menurut Ahmad (2006) dalam buku LATERITES (Fundamentals of chemistry, mineralogy, weathering processes and laterite formation),  mengemukakan bahwa peranan topografi sangat besar pada proses lateritisasi, melalui beberapa faktor antara lain:
  • Penyerapan air hujan (pada slope curam umumnya air hujan akan mengalir ke daerah yang lebih rendah /run off dan penetrasi ke batuan akan sedikit. Hal ini menyebabkan pelapukan fisik lebih besar dibanding pelapukan kimia)
  • Dearah tinggian memiliki drainase yang lebih baik daripada daerah rendahan dan daerah datar.
  • Slope yang kurang dari 20 derajat memungkinkan untuk menahan laterit dan erosi.
Pada proses pengayaan nikel, air yang membawa nikel terlarut akan sangat berperan  dan pergerakan ini dikontrol oleh topografi. Secara kualitatif pada lereng dengan derajat tinggi (curam) maka proses  pengayaan akan sangat kecil atau tidak ada sama sekali karena air pembawa Ni akan mengalir. Bila proses pengayaan kecil maka pembentukan bijih (ore) juga akan kecil (tipis), sedangkan pada daerah dengan lereng sedang / landai proses pengayaan umumnya berjalan dengan baik karena run off kecil sehingga ada waktu untuk proses pengayaan, dan umumnya ore yang terbentuk akan tebal. Akibat lereng yang sangat curam maka erosi yang terjadi sangat kuat hingga mengakibatkan zona limonit dan saprolit tererosi. Hal ini dapat terjadi selama proses lateritisasi atau setelah terbentuknya zona diatas batuan dasar (bedrock).

Berikut ini adalah beberapa contoh bentuk lahan yang mempengaruhi tinggi rendahnya proses lateritisasi :


Gambar 1. Klasifikasi sederhana antara bentuk lahan dan proses lateritisasi (Waheed, 2006)

Menurut Waheed, 2006 ada beberapa parameter yang digunakan untuk membandingkan proses-proses yang terjadi pada lereng yang berbeda, yaitu 
    

      Gambar 2. Hubungan topografi terhadap proses lateritisasi (Waheed, 2006)

Tabel 1. Modifikasi klasifikasi kelas lereng (Van Zuidam,1979) 


Penyebaran Horizontal Laterit

Penyebaran horizontal Ni tergantung dari arah aliran air tanah yang sangat dipengaruhi oleh bentuk kemiringan lereng (topografi). Air tanah bergerak dari daerah – daerah yang mempunyai tingkat ketinggian ke arah lereng, yang mana sebagian besar dari air tanah pembawa Ni, Mg dan Si yang mengalir ke zona pelindian atau zona tempat fluktuasi air tanah berlangsung (Hasanudin dkk, 1992).

Tempat - tempat yang banyak mengandung rekahan – rekahan, Ni akan terjebak dan terakumulasi di tempat – tempat yang dalam sesuai dengan rekahan – rekahan yang ada, sedangkan pada lereng dengan kemiringan landai sampai sedang merupakan tempat pengayaan nikel (Hasanudin dkk, 1992). Pada dasarnya proses pelindian ini dapat dikelompokan, yaitu proses pelindian utama yang berlangsung secara horizontal di zona pelindian dan proses pelindian yang berlangsung secara vertikal yang meliputi proses pelindian celah di zona saprolit serta proses pelindian yang terjadi di waktu musim penghujan di zona limonit (Golightly, 1979). 

Gambar 3. Penampang tegak endapan nikel laterit (Golightly,1979)

Menurut Golightly (1979) faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat sebaran secara horizontal endapan lateritik, yaitu :
  • Topografi / morfologi yang tidak curam tingkat kelerengannya, sehingga endapan laterit masih mampu untuk ditopang oleh permukaan topografi sehingga tidak terangkut semua oleh proses erosi ataupun ketidakstabilan lereng.
  • Adanya proses pelapukan yang relatif merata walaupun berbeda tingkat intensitasnya, sehingga endapan lateritik terbentuk dan tersebar secara merata.
  • Adanya tumbuhan penutup yang berfungsi untuk mengurangi tingkat intensitas erosi endapan laterit, sehingga endapan laterit tersebut relatif tidak terganggu.


{ 0 komentar ... read them below or add one }

Posting Komentar