koefisien muai panjang

Diposting oleh Selamat datang di blog on Rabu, 16 Maret 2016


I.                   PENDAHULUAN
             Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor.
            Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat padat, pada zat cair, dan pada zat gas. Pemuaian pada zat gas ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu demensi), pemuaian luas (dua dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi). Sedangkan pada zat cair dan zat gas hanya terjadi pemuaian volume saja, khusus pada zat gas biasanya diambil nilai koofisien muai volumenya sama dengan1/273.Pemuaian panjang adalah bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor. Pada pemuaian panjang nilai lebar dan tebal sangat kecil dibandingkan dengan nilai panjang benda tersebut. Sehingga lebar dan tebal dianggap tidak ada.
              Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu panjang awal benda, koefisien muai panjang dan besar perubahan suhu. Koefisien muai benda dipengaruhi oleh jenis benda atau jenis bahan tersebut.
              Secara matematis persamaan yang digunakan untuk menentukan pertambahan panjang benda setelah dipanaskan pada suhu tertentu adalah
dimana
 
adalah pertambahan panjang,  adalah panjang awal,  adalah koefisien muai panjang dan  adalah perubahan suhu benda.

II.                TUJUAN
Menentukan muai panjang dari suatu logam.

III.             DASAR TEORI
Pemuaian panjang dari suatu benda padat dapat dilukiskan sebagai berikut:
Lt =L0 (1+αt)

 


                                                                                                    
Lt’ =L0 (1+αt’)

        Dimana Lt=panjang pada suhu t, L0= panjang padasuhu 00, α= koefisien muai panjang suatu bahan, yaitu pertambahan panjang relatif untuk tiap derajat kenaikan suhu. Pada saat suhu t’ panjangnya adalah:
                                                                  Lt =L0 (1+αt)               
                                                                           
        Dari kedua persamaan tersebut didapatkan:
Α=
Α=

 


                                                                                    

        Jadi α dapat dihitung bila pertambahan panjangnya pada pemanasan dari t menjadi t’ dan L nya diukur. Dalam percobaan batang logam dipanasi dari suhu kamar sampai suhu air mendidih (titik didih). Karena panjangnya pada suhu kamar ternyata tidak banyak bedanya dengan panjangnya pada suhu 00C maka L dapat diganti dengan Lt. Sehingga:
α=
 



          Karena pertambahan panjangnya sangat kecil, maka dilakukan pengukuran yang teliti dengan tuas dan pembacaan cermin seperti pada gambar:

Lt’-Lt= d tg θ

 


                                                                                           

jika kedudukan teropong sama dengan titik tengah cermin maka
tg 2θ=

 


                                                                                                                    

α=  

α=

Dimana K’ dan K adalah garis skala yang berhimpit dengan benang salib teropong pada suhu t’ dan t, X adalah jarak dari cermin sampai batang berskala. Karena θ sangat kecil maka tg 2θ= 2 tg θ sehingga diperoleh:


                                                                                                                        

IV.             METODE EKSPERIMEN
A.    Alat dan Bahan
·         Alat muai logam
·         Teropong
·         Batang berskala
·         Pita pengukur
·         Termometer
·         Bejana uap



B.     Skema Percobaan

 



                                                                                                    








Keterangan gambar:
C=cermin datar sistem tuas
T= teropong
S= batang berskala
d= lengan tuas
θ=sudut perputaran sudut cermin saat suhu t’

C.     Langkah Kerja
1.      Teropong dipasang sama tinggi dengan cermin dan arahnya menuju cermin
2.      Pada suhu kamar kedudukan cermin dibuat vertikal. Batang berskala yang diterangi dengan lampu digeser ke kanan atau ke kiri sampai kelihatan melalui teropong. Garis skala yang berhimpit dengan benang salib dicatat dab suhu kamar juga dicatat.
3.      Tabung pemanas dan bejana uap dihubungkan
4.      Setelah air mendidih dan uap mengalir ke tabung pemanas, garis skala pada setiap penurunan suhu setiap 5o C di catat.
5.      Jarak cermin sampai batang berskala diukur.

D.    Metode Analisa Data
                  Dalam praktikum kali ini besaran yang dicari adalah α (koefisien muai panjang). Untuk memperoleh nilai tersebut maka dilakukan perhitungan sebagai berikut:
LT= L0(1+αT) dan LT’=L0(1+αT’)
Maka didapat rumus untuk mencari α adalah sebagai berikut:LT’
α=  

 



                                                                                                           
Dimana LT’-LT=d tan θ
tan 2θ= ; tan 2θ= 2 tan θ
sehingga α=
α=        
d(K’-K)= 2XLo(T’-T)
α=              ∆α=


(K’-K)= (T’-T)
Untuk (K’-K)=y
 dengan nilai ralat adalah ∆m=Sy

V.                HASIL EKSPERIMEN
A.    DATA
a.       Data I (kuningan)   keterangan:
K=1.95 m                    (K=Lo=panjang logam mula-mula)
T=27o C                       T= suhu mula-mula
Xo=1.25 cm                 Xo=jarak penggaris ke cermin
d=0.05 cm                   d= tinggi cermin
NO
T1
T2
T'
T'-T
K' (m)
K'-K (m)
1
80
34
57
57
1.75
-0.20
2
75
34
54.5
54.5
1.85
-0.10
3
70
33.5
51.75
51.75
2.05
0.10
4
65
33
49
49
2.02
0.07
5
60
33
46.5
46.5
2.00
0.05
6
55
32
43.5
43.5
1.97
0.02
7
50
32
41
41
1.95
0
8
45
31
38
38
1.86
-0.09
9
40
30
35
35
1.85
-0.10
10
35
30
32.5
32.5
1.75
-0.20


b.      Data 2 (tembaga)
                   T1=30o C   T2=24o C    K=2.05 m
Xo=2.05 m cm
d=0.05 cm

NO
T'1
T'2
T'
K'(m)
K'-K
T'-T
1
85
71
78
2.5
0.45
51
2
80
68
74
2.3
0.25
47
3
70
59
64.5
2.4
0.35
37.5
4
65
54
59.5
2.35
0.3
32.5
5
60
49
54.5
2.27
0.22
27.5
6
55
45
50
2.25
0.2
23
7
50
40
45
2.2
0.15
18
8
45
35
40
2.17
0.12
13
9
40
31
35.5
2.14
0.09
8.5
10
35
28
31.5
2.1
0.05
4.5
                 Note: data yang berwarna merah tidak dipakai


B.     GRAFIK
a.       Data I (kuningan)
Grafik Hubungan Suhu dengan Panjang
                                                (K’-K)=2Xloα/α (T’-T)

                                                    y            m           x























b.      Data II (tembaga)
Grafik Hubungan Suhu dengan Panjang
(K’-K)= . (T’-T)





































C.     PERHITUNGAN

a.       Percobaan I
y= K’-K (m)
x= T’-T (OC)

No
x
y
xy
1
51.75
0.1
2678.063

0.010
5.175
2
49
0.07
2401
0.0049
3.43
3
46.5
0.05
216.25
0.0025
2.325
4
43.5
0.02
1892.25
0.0004
0.87
5
41
0
1681
0
0
6
38
-0.09
1444
0.0081
-3.42
7
35
-0.1
1225
0.010
-3.5
8
32.5
-0.2
1056.25
0.040
-6.5
Ʃ
337.25
-0.15
14539.81
0.0759
-1.62

m=





Sy2= 0.028124
Sy=0.16
∆m=Sy
m±∆m=3.7x10-3±1.4x10-3
∆m=1.4x10-3
0.00037=3.7x10-3∆m

     =0.001408



α±∆α=3.80x10-5±1.43x10-5
α=
  =
  =3.80x10-5
∆α=
                     =
                     =1.43x10-5

b.      Percobaan II

no
x
y
x2
y2
xy
1
51
0.45
2601
0.2025
22.95
2
37.5
0.35
1406.25
0.1225
13.125
3
32.5
0.3
1056.25
0.09
9.75
4
27.5
0.22
756.25
0.0484
6.05
5
23
0.2
529
0.04
4.6
6
18
0.15
324
0.0225
2.7
7
13
0.12
169
0.0144
1.56
8
8.5
0.09
72.25
0.0081
0.765
9
4.5
0.05
20.25
0.0025
0.225
sum
164.5
1.93
6934.25
0.5509
61.725


  =
  =6.73x10-3

       =  0.124
Sy    =0.352
∆m=Sy
      =0.00562
     =5.62x10-3
m±∆m=6.73x10-3±5.62x10-3
m±

α=                               
                     =
                    = 6.36x10-5
∆α=
  =
  =5.31 x10-5
α±∆α=6.36x10-5±5.31x10-5
 








VI.                PEMBAHASAN
Praktikum  kali ini bertujuan untuk mencari α atau koefisien muai panjang dengan cara memanaskan logam. Logam yang dipanaskan kemudian memuai, lalu dihitung berapa perubahan panjang dari logam pada setiap penurunan suhu 5o C. Logam yang digunakan ada 2 jenis, yaitu pada percobaan pertama meggunakan logam kuningan dan percobaan kedua menggunakan tembaga.
Baik pada percobaan pertama maupun percobaan kedua, diambil data penurunan suhu dan perubahan panjang sebanyak 10 buah data. Kemudian data tersebut diplot kedalam grafik untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat ataupun variabel bebas dan juga untuk mengetahui data mana yang akan dimasukkan kedalam perhitungan. Dari grafik, dapat dilihat hubungan antara (K’-K) vs (T’-T) pada kedua percobaan tersebut adalah berbanding lurus. Pada grafik percobaan pertama dapat dilihat ada 2 data yang tidak terpakai, dan pada grafik percobaan kedua ada 1 data yang tidak dipakai dalam perhitungan. Hal ini disebabkan akibat beberapa hal sehingga tidak seluruh data yang dapat dimasukkan ke dalam perhitungan.
Setelah diplot ke dalam grafik, dilakukan perhitungan untuk mencari α dengan metode regresi. Pada percobaan pertama didapatkan m±∆m=3.7x10-3±1.4x10-3 dan α±∆α=3.80x10-5±1.43x10-5. Sedangkan pada percobaan kedua didapatkan m±∆m=6.73x10-3±5.62x10-3 dan α±∆α=6.36x10-5±5.31x10-5. Hal ini memiliki perbedaan yang jauh dari sumber yang praktikan dapatkan, yang mengatakan bahwa koefisien muai panjang dari logam kuningan adalah 1.9x10-5 dan koefisien muai panjang yang dimiliki oleh logam tembaga adalah 1.7x10-5.
Dalam melakukan praktikum ini terdapat berbagai kendala yang praktikan hadapi. Di antaranya adalah kondisi alat yang sudah tua dan tidak dapat menghasilkan data yang akurat. Diantaranya adalah kondisi termometer yang sudah pecah. Selain itu tidak adanya benang salib sehingga praktikan harus mengira-ngira skala yang terlihat dari teropong. Kesalahan juga dapat disebabkan oleh praktikan yang tidak cermat dalam pengambilan data dan melakukan perhitungan, sehingga terjadi kesalahan dalam melakukan perhitungan dan tidak sesuainya hasil perhitungan dengan referensi.
















VII.              KESIMPULAN
·         Dari grafik dapat disimpulkan bahwa hubungan antara suhu dengan panjang logam adalah berbanding lurus.
·         Hasil dari perhitungan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1.       Percobaan pertama
m±∆m=3.7x10-3±1.4x10-3
α±∆α=3.80x10-5±1.43x10-5
2.       Percobaan kedua
m±∆m=6.73x10-3±5.62x10-3
α±∆α=6.36x10-5±5.31x10-5
VIII.            DAFTAR PUSTAKA
Staff Laboratorium Fisika Dasar. 2012. Panduan Praktikum Fisika Dasar Semester 2. Yogyakarta : Laboratorium Fisika Dasar FMIPA UGM
Anonim. 2010. Penerapan Konsep Pemuaian Zat. [online]. (http://modulfisika.blogspot.com/2010/02/kelas-vii-penerapan-konsep-pemuaian-zat.html, diakses tanggal 22 Maret 2013)


















More about → koefisien muai panjang

Induksi Diri

Diposting oleh Selamat datang di blog

A.    PENDAHULUAN
Sebuah induktor atau reaktor adalah sebuah komponen elektronika pasif yang kebanyakan berbentuk torus yang dapat menyimpan energy pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melewatinya. Kemampuan indukor untuk menyimpan energy magnet ditentukan oleh induktansinya dalam satuan Henry. Biasanya sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat didalam kumparan dikarenakan Hukum Induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik.
Dalam eksperimen kali ini, akan diselidiki sebuah induktansi yang ditimbulkan oleh suatu induktor dengan bantuan osiloskop. Dengan menggunakan osiloskop dapat digambarkan kelakuan induktor ketika dilewati arus AC. Dengan hal tersebut, dapat diketahui besar induktansi dalam induktor.

A.    TUJUAN PERCOBAAN
Dalam percobaan Induksi Diri kali ini bertujuan untuk:
-          Mengukur nilai induktansi diri dari suatu induktor
-          Menyelidiki rangkaian RL dengan menggunakan osiloskop

-          Mengetahui hubungan antara frekuensi dengan hambatan

A.    DASAR TEORI
Indukstansi (L) adalah efek dari medan magnet yang terbentuk disekitar konduktor pembawa arus. Arus listrik yang melewati konduktor membuat membuat medan magnet sebanding dengan arus. Perubahan dalam arus menyebabkan perubahan medan magnet yang mengakibatkan gaya elektromatif lawan melalui GGL induksi yang bersifat menentang perubahan arus. Induktansi diukur berdasarkan jumlah gaya elektromotif yang ditimbulkan untuk setiap perubahan arus terhadap waktu. Sebagai contoh, sebuah induktor dengan 1 Henry menimbulkan gaya elektromotif 1 volt saat arus damalm induktor berubah dengan kecepatan 1 ampere setiap sekon. Secara matematis, gaya electromagnet didefinisikan sebagai berikut:
A.    PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dasar teori yang digunakan adalah efek dari medan magnet yang terbentuk disekitar konduktor pembawa arus atau induktansi. Arus listrik yang melewati konduktor membuat membuat medan magnet sebanding dengan arus. Perubahan dalam arus menyebabkan perubahan medan magnet yang mengakibatkan gaya elektromatif lawan melalui GGL induksi yang bersifat menentang perubahan arus. Induktansi diukur berdasarkan jumlah gaya elektromotif yang ditimbulkan untuk setiap perubahan arus terhadap waktu. Gaya electromagnet didefinisikan sebagai berikut:
Dengan             = gaya elektromotif
                        L = induktansi
                         = perubahan arus tiap waktu
           Dimana praktikum ini bertujuan untuk menginterpretasikan grafik yang bisa dilakukan dengan membaca grafik secara langsung maupun dengan metode regresi linear. Sedangkan tujuan-tujuan yang lain yaitu mengukur nilai induktansi diri dari suatu induktor, menyelidiki rangkaian RL dengan menggunakan osiloskop serta mengetahui hubungan frekuensi dengan hambatan. Cara kerja pada percobaan kali ini meliputi dua kali pengambilan data yaitu dengan metode beda tegangan dan metode beda fase. Variasi dilakukan pada hambatan dengan variasi 10 kΩ pada metode beda tegangan dan 1 Ω pada metode beda fase. Dalam kedua metode diambil data sebanyak 7 data. Data yangdiperoleh disajikan dalam grafik dan tabel. Dengan metode regresi linear, dihitung nilai m serta ∆m untuk menghitung nilai L dan ∆L.
           Berikut ini adalah tinjauan-tinjauan terhadap praktikum induksi diri yang telah dilakukan:
1.      Tinjauan terhadap data hasil eksperimen
Dari hasil percobaan dan pengolahan data praktikum induksi diri diatas diperoleh hasil berupa:
-          Metode beda tegangan
L          = 1,1 Henry
∆ L      = 7,1 x 10-3 Henry
-          Metode beda fase
L          = 8,2 x 10-3 Henry
∆ L      = 0.042 Henry
Pada percobaan dengan metode beda fase didapat nilai Jadi L ± ∆ L = 8,2 x 10-3 Henry ± 0.042 Henry. Terdapat kesalahan dimana nilai ralat data lebih besar daripada nilai induktansinya sendiri. sehingga dapat disimpulkan perhitungan diatas kurang sesuai atau terjadi kesalahan.
2.      Tinjauan terhadap grafik
Penggunaan metode grafik untuk penyajian data pada eksperimen ini lebih mempermudah dalam penginterpretasian data. Dari grafik yang didapat dari data hasil eksperimen, diketahui bahwa pada grafik beda frekuensi vs hambatan hubungan antara frekuensi dan hambatan adalah berbanding lurus. Semakin besar nilai hambatan maka semakin besar pula nilai frekuensi nya. Hal ini berlaku untuk metode beda tegangan maupun metode beda fase. Walaupun pada metode beda fase titik-titik yang terdapat pada grafik letaknya tidak linear. Tetapi dari titik-titik tersebut masih bisa ditarik garis dan menghasilkan grafik linear.
3.      Tinjauan terhadap sikap
Dari kedua metode yang digunakan yaitu metode beda tegangan dan beda fase telah didapat grafik serta  nilai L dan ∆ L dari masing-masing metode. Tetapi pada metode beda fase didapat nilai ralat yang lebih besar daripada nilai induktansinya. Hasil yang diperoleh kemungkinan besar menemui kesalahan atau error yang dilakukan praktikan maupun dari alat yang digunakan. Sebelumnya, pada pengambilan data metode beda fase, praktikan menemui kesulitan saat menampilkan gelombang Lissa Jous pada layar osiloskop. Serta kesulitan dalam pembacaan nilai x dan ∆xpada gelombang. Oleh karena itu kemungkinan besar kesalahan yang terjadi disebabkan oleh kekurang telitian praktikan.
            Dari tinjauan-tinjauan dari beberapa aspek diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari percobaan induksi diri telah dicapai. Meliputi didapatnya nilai L beserta ralatnya, hubungan antara frekuensi dengan hambatan, serta tujuan yang lain.

B.     KESIMPULAN
 Dari percobaan diatas dapat disimpulkan:
-          Alat yang kurang baik (kondisi maupun rangkaiannya) dapat menyebabkan hasil yang kurang akurat.
-          Penggunaan metode regresi sebagai analisa perhitungan menghasilkan hasil yang akurat, namun apabila terjadi kesalahn dalam pengambilan data akan didapat hasil yang tidak presisi.
-          Hasil perhitungan:
Metode beda tegangan
L          = 1,1 Henry
∆ L      = 7,1 x 10-3 Henry
Metode beda fase
L          = 8,2 x 10-3 Henry
∆ L      = 0.042 Henry
-           Frekuensi berbanding lurus dengan hambatan


C.     REFERENSI
-          http://id.wikipedia.org/wiki/Induktansi (diakses pada 21 Mei 2013 pukul 20.00 WIB)
-          Martin, Elizabeth A. 2012. Kamus Sains . Yogyakarta: Pustaka Pelajar

D.    PENGESAHAN
Demikian laporan fisika dasar Induksi Diri ini dibuat.

            Yogyakarta, 23 Mei 2013
                                                                                          Praktikan


                                                                              Halim Fattahillah












More about → Induksi Diri

Eksplorasi Sesmik

Diposting oleh Selamat datang di blog on Minggu, 13 Maret 2016

Teknologi Eksplorasi Migas

Studi awal untuk melakukan eksplorasi minyak dan gas bumi di suatu wilayah adalah penelitian geologi. Pada umumnya metode geofisika yang digunakan untuk membantu studi awal tersebut adalah metode gravitasi dan magnetik, dengan tujuan survei dengan menggunakan kedua metode tersebut untuk memberi gambaran tentang basement dan tektonik. Hasil akhir dari studi awal tersebut adalah rekomendasi untuk melakukan studi yang lebih mendalam dengan menggunakan metode seismik pantul.
Gambar Survei Seismik

Survei Seismik Refleksi

Metode seismik pantul (seismic reflection) digunakan untuk memetakan atau memotret struktur bawah tanah dengan cara menjalarkan gelombang seismik yang merupakan gelombang suara (sonic wave) kedalam medium tanah. Sesuai dengan hukum Snellius mengenai pembiasan dan pemantulan gelombang.




Hukum Snellius merupakan rumusan matematika yang memberikan hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda, misalnya didalam ilmu kebumian antara lapisan pasir dan lempung. 
kegiatan survei seismik di leas pantai


Didalam eksplorasi minyak dan gas bumi dengan menggunakan metode seismik refleksi, penguasaan keilmuan tentang gelombang sangat diperlukan sekali. Oleh karena itu, sangat dianjurkan para mahasiswa untuk mendalami pengertian dan pemahaman tentang gelombang secara mendalam, khususnya gelombang mekanik atau gelombang suara. Pemahaman tentang gelombang longitudinal (Gelombang P atau Body Wave) dan gelombang transversal (Gelombang S atau Surface Wave).
Bentuk Gelombang
Parameter Gelombang









Didalam pelaksanaan survei seismik refleksi khususnya untuk eksplorasi minyak dan gas bumi, melibatkan pemikir dibidang keilmuan yang lain, yaitu tentang topografi, seismologist, processing, Field Quality Control (QC) serta bagian-bagian yang mendukung kelancaran survei. Pemikir dibidang topografi sangat diperlukan karena setiap titik ukur (Shot Point) perlu diketahui koordinat (x dan y) serta ketinggian (z). Pemikir dibidang seismologi (seismologist) yaitu ilmu tentang penjalaran gelombang seismic sangat berperan didalam penentuan keberadaan minyak dan gas bumi. Data-data hasil survei seismik refleksi perlu dilakukan pengolahan data (processing) sebelum disajikan untuk diinterpretasi. Setiap hasil dari tahapan survei ataupun pengolahan data seismik selalu dikontrol untuk menjamin kualitas data dan hasil, sehingga diperoleh hasil akhir yang bisa dipercaya.


Kegiatan seismik di Darat

Metode seismik refleksi dapat digunakan untuk mendeteksi parameter fisis baik secara lateral (horizontal) maupun kedalaman (vertikal). Setelah melalui pengolahan data seismik yang cukup panjang, maka dapat dihasilkan citra atau potret bawah permukaan tanah.
Gambaran bawah permukaan, hasil dari Survei seismik



Respon pada penjalaran gelombang seismik bergantung dari densitas batuan dan konstanta elastisitas lainnya. Sehingga, setiap perubahan konstanta tersebut (porositas, permeabilitas, kompaksi, dll) pada prinsipnya dapat diketahui dari metode seismik.

Kemajuan teknologi instrumentasi dan komputer menyebabkan kemajuan didalam pengolahan data seismik refleksi, sehingga memungkinkan untuk melakukan deteksi langsung terhadap keberadaan hidrokarbon. Salah satu metode seismic yang saat ini masih dalam taraf penelitian adalah penggunaan metode mikro seismic atau passive seismic untuk mendeteksi secara langsung keberadaan akumulasi hidrokarbon. Sebagian besar perangkap minyak dan gas bumi ditemukan pada lapisan batuan pasir dan karbonat, dan sangat terbatas terbentuk dibatuan shale, batuan volkanik ataupun rekahan batuan dasar (basalt). Jebakan minyak dan gas bumi bisa dalam bentuk struktur antiklin, patahan, kubah garam dan stratigrafi.
Contoh Trap di bawah ppermukaan




Dengan melakukan kerjasama keilmuan antara geologi dan geofisika, maka jebakan-jebakan  minyak dan gas bumi baik struktur (a,b dan d) ataupun stratigrafi (c) dapat ditemukan








Daftar Pustaka :
Sudiartono,2012 Modul Kuliah Pengantar Geofisika Eksplorasi



More about → Eksplorasi Sesmik

Peta RBI Papua

Diposting oleh Selamat datang di blog on Jumat, 04 Maret 2016

Sehubungan di galakanya pembangunan di Propinsi Papua dan Papua Barat, tentunya sangat di butuhkan informasi peta rupa bumi (RBI)
untuk memudahkan memperoleh peta, berikut saya upload peta rupa bumi Propinsi Papua Barat dan Propinsi Papua yang di keluarkan bakosurtanal, semoga informasi peta RBI ini berguna bagi yang membutuhkan, khususnya di kalangan pelajar / mahasiswa yang sangat membutuhkanya
Peta RBI Papua dan Papua Barat
Peta yang di sajikan full tanpa kompres sehingga bisa di pergunakan sebagai basemap, layout, untuk di pergunakan pada software pemetaan.
Basic informasi ini untuk semua kalangan, smoga bermanfaat

index RBI
More about → Peta RBI Papua

Eksplorasi Aspal Alam

Diposting oleh Selamat datang di blog on Selasa, 01 Maret 2016

Indonesia memiliki aspal alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (aspal batu buton). Potensi asbuton yang diperkirakan memiliki cadangan yang cukup besar membuat para produsen untuk kembali menggalakkan kegiatan eksplorasi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal diperlukan metode eksplorasi yang tepat. Berikut beberapa langkah eksplorasi pada endapan aspal alam.

1. Penyelidikan umum

Dimulai dengan studi kepustakaan meliputi hal-hal yang menyangkut keadaan geologi secara regional dan keadaan tektoniknya. Kemudian disusul dengan pemeriksaan lapangan guna diusahakan menemukan adanya singkapan (out crop) atau rembesan aspal serta mengambil beberapa sampel.

Gambar 1. Rembesan aspal di salah satu anak sungai di buton utara (www.pusjatan.pu.go.id)

2. Pemetaaan Geologi

Setelah proses penyelidikan umum telah diuraikan untuk penyelidikan yang lebih rinci, langkah berikutnya dalam proses pengumpulan data eksplorasi biasanya berupa peta geologi yang sesuai. Hal ini didapatkan dari kegiatan pemetaan geologi oleh ahli geologi (geologist). Sampel yang berukuran kecil dapat dikumpulkan untuk studi mineralogi atau tekstur lebih lanjut dengan teknik mikroskop dilaboratorium. Analisis kimia juga menghasilkan informasi penting untuk mineral explorer.

Data yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu antara lain: 
  • Peta akurat yang mendokumentasikan jenis batuan, perubahan mineralogi, dan data struktural seperti sesar, lipatan, pola tegasan dan dip dari lapisan batuan serta sebaran potensi aspal,
  • Perkiraan tentang kualitas,
  • Interpretasi tentang geometri dan struktur endapannya.

3. Eksplorasi Geofisika

Kegiatan eksplorasi geofisika yang digunakan untuk survey perkiraan daerah yang berpotensi aspal dilakukan dengan dua cara, yaitu eksplorasi seismik dan geoelektrisitas, yang selanjutnya akan disebut dengan resistivitas. 

Keunggulan metode resistivitas adalah mempunyai kemampuan menampilkan variasi dari aspal alam secara vertikal maupun horizontal dengan cukup baik di bawah permukaan bumi dan kemudahan dalam hal akomodasi dan biaya survey. Metode resistivitas dilakukan untuk menganalisis variasi dari nilai resistivitas batuan aspal dengan batuan di sekitarnya. Resistivitas yang tercatat menunjukkan adanya kandungan bitumen pada batuan. Asbuton yang berbitumen tinggi akan menunjukkan nilai resistivitas yang relatif lebih tinggi dari batuan sekitarnya.

Gambar 2. Penampang resistivitas yang memperlihatkan potensi asbuton yang besar.

Pemodelan secara 2-D maupun 3-D berdasarkan nilai resistivitas akan memperlihatkan persebaran asbuton pada daerah penelitian. Pemodelan tersebut akan mampu memperhitungkan besar sumberdaya dari asbuton.


4. Pengeboran

Salah satu keputusan penting di dalam kegiatan eksplorasi adalah menentukan kapan kegiatan pemboran dimulai dan diakhiri. Pelaksanaan pemboran sangat penting jika kegiatan yang dilakukan adalah menentukan zona endapan dari permukaan. Kegiatan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran geometri endapan dari permukaan sebaik mungkin, namun demikian kegiatan pemboran dapat dihentikan jika telah dapat mengetahui gambaran geologi permukaan dan geomtetri endapan bawah permukaan secara menyeluruh.

Hasil yang diharapkan dari pemboran eksplorasi, antara lain :
  • Identifikasi struktur geologi,
  • Sifat fisik dan mineralogi batuan samping dan endapan,
  • Geometri endapan,
  • Sampling, 
  • Kualitas endapan, dll

Baca Juga:

More about → Eksplorasi Aspal Alam

Jenis-jenis Aspal

Diposting oleh Selamat datang di blog

Secara umum, jenis aspal dapat diklasifikasikan berdasarkan asal dan proses pembentukannya adalah sebagai berikut:

a. Aspal Alam

Aspal alam ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau buton, dan ada pula yang diperoleh di Kepulauan Trinidad, Albania dan Irak. Aspal alam terbesar di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau.

Indonesia memiliki aspal alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (aspal batu buton). Aspal batu buton adalah jenis rock asphalt, yaitu batuan yang terimpregnasi oleh aspal. Batuan induknya adalah batugamping dan napal. Partikel asbuton terdiri dari mineral, bitumen dan air, berwarna hitam kecoklat-coklatan, porous dan relatif ringan. Contoh penambangan aspal alam di Pulau Buton diperlihatkan pada gambar 1. Asbuton yang diekstraksi dapat dipisahkan antara mineral dengan bitumennya. Kadar aspal (bitumen) dari asbuton bervariasi dari 10 sampai 40%..

Gambar 1. Penambangan aspal alam di Pulau Buton (www.pusjatan.pu.go.id)

Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah dimulai sejak tahun 1920, walaupun masih bersifat konvensional. Asbuton merupakan batu yang mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi.


b. Aspal Minyak

Aspal minyak bumi adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak bumi. Setiap minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis asphaltic base crude oil yang mengandung banyak aspal, parafin base crude oil yang mengandung banyak parafin, atau mixed base crude oil yang mengandung campuran aspal dengan parafin. Untuk perkerasan jalan umumnya digunakan asphaltic base crude oil.

Hasil destilasi minyak bumi menghasilkan bensin, minyak tanah, dan solar yang diperoleh pada temperatur berbeda-beda, sedangkan aspal merupakan residunya [Baca Juga: Bahan Galian Aspal]. Residu aspal berbentuk padat, tetapi dapat pula berbentuk cair atau emulsi pada temperatur ruang. 

Jadi, jika dilihat bentuknya pada temperatur ruang, maka aspal dibedakan atas beberapa bagian, yaitu:
  1. Aspal padat adalah aspal yang berbentuk padat atau semi padat pada suhu ruang dan mencair jika dipanaskan. Aspal padat dikenal dengan nama semen aspal (asphalt cement). Oleh karena itu, semen aspal harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan pengikat agregat.
  2. Aspal cair (asphalt cut-back) yaitu aspal yang berbentuk cair pada suhu ruang. Aspal cair merupakan semen aspal yang dicairkan dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi seperti minyak tanah, bensin, atau solar. Bahan pencair membedakan aspal cair menjadi tiga bagian, yaitu Slow Curing dengan bahan pencair solar, Medium Curing dengan bahan pencair minyak tanah, dan Rapid Curing dengan bahan pencair bensin.
  3. Aspal emulsi, yaitu campuran aspal (55%-65%) dengan air (35%-45%) dan bahan pengemulsi 1% sampai 2% yang dilakukan di pabrik pencampur. Dalam aspal emulsi, butir-butir aspal larut dalam air. Untuk menghindari butiran aspal saling menarik membentuk butir-butir yang lebih besar, maka butiran tersebut diberi muatan listrik.



More about → Jenis-jenis Aspal

Bahan Galian Aspal

Diposting oleh Selamat datang di blog

Kata “aspal” identik dengan jalan raya yang mulus. Secara ilmiah aspal merupakan bitumen yang secara umum merupakan sekelompok material yang terbentuk dari campuran hidrokarbon yang dapat dilebur (fusible) dan mencair (soluble) dalam karbon bisulfide (hidrokarbon, sulfur, oksigen, dan klor).

Aspal terbagi menjadi 2 jenis yaitu aspal minyak dan aspal alam [Baca Juga: Jenis-Jenis Aspal].  Aspal minyak diperoleh dari penyulingan minyak bumi dengan berbagai kadar, volume lebih besar dan lebih ekonomis daripada aspal alam. Adanya variasi kadar ini memungkinkan dipakainya aspal diberbagai industri, sehingga kedudukan aspal alam banyak diganti oleh aspal minyak. Proses pembentukan aspal minyak diperlihatkan pada gambar berikut.


 Gambar 1. Kolom fraksinasi minyak mentah.

Aspal alam terbentuk perlahan-lahan dari fraksionasi alami minyak bumi di dekat minyak bumi. Aspal alam terdapat di alam biasanya dalam bentuk batuan sehingga biasa disebut batuan aspal. Aspal alam disebabkan adanya pengaruh tektonik terhadap minyak bumi yang diduga semula terkandung dalam batuan induk kemudian berimigrasi melalui dasar dan mengimpregnasi batuan sekitarnya, yaitu batugamping dan batupasir. Material aspal membentuk suatu danau yang mengisi pori-pori, celah batuan, atau deposit yang mengandung campuran aspal alam dan bahan mineral dalam berbagai porsi.


Gambar 2. Singkapan aspal alam di Pulau Buton.

Aspal memiliki beberapa kegunaan antara lain:
  • Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan akibat lalu lintas (water proofing, protect terhadap erosi)
  • Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
  • Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair yang diletakan di atas lapis pondasi sebelum lapis berikutnya.
  • Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair yang diletakan di atas jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar, berfungsi pengikat di antara keduanya.
  • Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat halus, dan filler


Referensi :
Sudrajat, A., 1988. Bahan Galian Aspal, Bahan Galian Industri. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral.



Baca Juga:


More about → Bahan Galian Aspal