Tampilkan postingan dengan label Batubara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batubara. Tampilkan semua postingan

PLTU Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog on Minggu, 27 Desember 2015

Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara adalah salah satu jenis instalasi pembangkit tenaga listrik dimana tenaga listrik didapat dari mesin turbin yang diputar oleh uap yang dihasilkan melalui pemanasan menggunakan batubara. PLTU batubara merupakan sumber utama dari listrik dunia saat ini. Sekitar 60% listrik dunia bergantung pada batubara, hal ini dikarenakan PLTU batubara bisa menyediakan listrik dengan harga yang murah. Kelemahan utama dari PLTU batubara adalah pencemaran emisi karbonnya sangat tinggi, paling tinggi dibanding bahan bakar lain.

Batubara Pembangkit listrik di PLTU Suralaya, Banten

Untuk menghasilkan listrik murah, dikembangkan pembangkit listrik mulut tambang. Pembangkit listrik dibangun di dekat mulut tambang, sehingga memperkecil biaya produksi listrik. PLTU batubara dapat menggunakan batubara kalori rendah.

Untuk meningkatkan efisiensi dan sistim pembakaran batubara, serta sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, maka telah dikembangkan sistim peralatan yang mampu memisahkan gas-gas polutan seperti SOx dan NOx dalam gas buang dari pembakaran batubara. Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap batu kapur atau Ca(OH)2. Gas buang dari cerobong dimasukkan ke dalam fasilitas flue-gas desulfurization (FGD). Ke dalam alat ini kemudian disemprotkan udara sehingga SO2 dalam gas buang teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang selanjutnya didinginkan menggunakan air, sehingga SO3 bereaksi dengan air (H2O) membentuk asam sulfat (H2SO4). Asam sulfat selanjutnya direaksikan dengan Ca(OH)2 sehingga diperoleh hasil pemisahan berupa gipsum. Gas buang yang keluar dari sistim FGD sudah terbebas dari oksida sulfur.

Hasil sampingan berupa gipsum sintetis memiliki senyawa kimia yang sama dengan gipsum alam. Selain berfungsi mengurangi sumber polutan penyebab hujan asam, gipsum yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi.

Peralatan berteknologi tinggi lain yang kini mulai dipakai untuk menjinakkan polutan penyebab hujan asam adalah electron beam machine atau mesin berkas elektron (MBE). Prinsip kerja alat ini adalah menghasilkan berkas elektron dari filamen logam tungsten yang dipanaskan. Berkas elektron selanjutnya difokuskan dan dipercepat dalam tabung akselerator vakum bertegangan tinggi 2 juta volt. Jika gas buang yang mengandung polutan sulfur dan nitrogen diirradiasi dengan berkas elektron dalam suatu tempat yang mengandung gas ammonia, sulfur, dan nitrogen dapat berubah menjadi ammonium sulfat dan ammonium nitrat.

Proses pembersihan gas buang, diawali dengan mendinginkan SOx dan NOx dengan semburan air (H2O). Ke dalam campuran senyawa ini selanjutnya ditambahkan gas ammonia dan dialirkan ke dalam tabung pereaksi, selanjutnya diirradiasi dengan berkas elektron. Karena mendapatkan tambahan energi dari elektron itu, maka gas-gas polutan akan berubah, SOx menjadi SO3 dan NOx menjadi NO3.

Masih dalam pengaruh irradiasi elektron, kedua senyawa tersebut bereaksi dengan air sehingga dihasilkan produk antara berupa asam sulfat dan asam nitrat. Selanjutnya setelah proses irradiasi, asam sulfat dan asam nitrat bereaksi dengan ammonia sehingga dihasilkan produk akhir berupa ammonium sulfat dan ammonium nitrat. Kedua senyawa ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk sulfat dan pupuk nitrogen.

Selain tersebut di atas, hasil sampingan dari pembangkitan tenaga listrik PLTU batubara adalah abu batubara. Pada awalnya abu ini merupakan limbah yang tidak bisa dimanfaatkan lagi, akan tetapi saat ini merupakan bahan yang dapat dimanfaatkan secara komersial. Abu batubara berbentuk partikel halus amorf dan bersifat pozzolan, dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air membentuk senyawa yang bersifat mengikat.

Abu batubara yang dihasilkan oleh Unit Bisnis Pembangkit Suralaya dari pembangkit 3400 MW, adalah 1200 ton perhari dengan kehalusan 200 mesh. Abu batubara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan batako, conblock, semen, bahan keramik, dan pupuk.

More about PLTU Batubara

Genesa Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog

Di Indonesia batubara terbentuk pada cekungan sedimen berumur Permo-Karbon sampai Tersier (Neogen dan Paleogen). Sebagian besar batubara berumur muda (Neogen), berupa batubara lignit dan subbituminus dengan nilai kalori rendah dan sedang. Akan tetapi di beberapa tempat, seperti di daerah Bukit Asam dan Kubah Pinang (Sangata), pada lapisan batubara yang sama sebagian mendapat pengaruh panas dari intrusi magma, menyebabkan kualitasnya meningkat, sehingga ada yang mencapai peringkat antrasit.

Dua tahap penting yang dapat dibedakan untuk mempelajari genesa batubara adalah gambut dan batubara. Dua tahap ini merupakan hasil dari suatu proses yang berurutan terhadap bahan dasar yang sama (tumbuhan). Secara definisi dapat diterangkan sebagai berikut (Wolf, 1984):
  • Gambut adalah batuan sedimen organik yang dapat terbakar, berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam kondisi tertutup udara (di bawah air), tidak padat, kandungan air lebih dari 75% (berat) dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering.
  • Batubara adalah batuan sedimen (padatan) yang dapat terbakar, berasal dari tumbuhan, berwarna coklat sampai hitam, yang sejak pengendapannya terkena proses fisika dan kimia, yang mana mengakibatkan pengkayaan kandungan karbonnya.
Batubara terbentuk dari hasil pengawetan sisa-sisa tanaman purba dan menjadi padat setelah tertimbun oleh lapisan di atasnya. Pengawetan sisa-sisa tanaman ini sangat dipengaruhi oleh proses biokimia, yaitu pengubahan oleh bakteri. Akibat pengubahan oleh bakteri tersebut, bahan sisa-sisa tanaman kemudian terkumpul sebagai suatu massa yang mampat, yang disebut gambut. Proses pembentukan gambut terjadi karena akumulasi sisa-sisa tanaman, tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa-rawa, dengan sistem drainase kedalaman 0,5 – 0,1 m. Selanjutnya oleh aktivitas bakteri anaerobik dan jamur, bahan tersebut akan membusuk, berubah menjadi gambut. Pada tahapan ini yang berperan adalah proses biokimia atau diagenetik. 


Gambar 1. Skema Pembentukan Batubara

Gambut yang telah terbentuk lambat laun tertimbun oleh endapan-endapan seperti batulempung, batulanau, dan batupasir. Seiring berjalannya waktu, gambut ini akan mengalami perubahan sifat fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan dan temperatur, sehingga berubah menjadi batubara. Proses perubahan dari gambut menjadi batubara dikenal dengan nama proses pembatubaraan. Pada tahap ini proses pembentukan batubara lebih didominasi oleh proses geokimia dan fisika yang berpengaruh besar terhadap perubahan gambut menjadi batubara lignit, batubara bituminus, sampai batubara antrasit.
Gambar 2. Peringkat (rank) dan proses sederhana terbentuknya batubara

Pematangan bahan organik terjadi dengan cepat seiring bertambahnya kedalaman batubara. Hal ini disebabkan temperatur bumi semakin dalam akan semakin panas. Pematangan bahan organik juga dapat terjadi apabila terdapat gesekan akibat tektonik. Waktu pemanasan juga merupakan hal yang berpengaruh terhadap tingkat pematangan batubara, waktu pemanasan yang lebih lama akan menghasilkan tingkat pematangan batubara yang lebih tinggi. Oleh karena itu, batubara yang berumur lebih tua akan mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi. Tekanan juga mempunyai pengaruh terhadap proses pematangan batubara, hanya saja pengaruhnya relatif kecil bila dibandingkan dengan temperatur dan waktu. Dalam hal ini tekanan hanya berfungsi untuk memadatkan bahan organik dan mengurangi kandungan air di dalamnya.

Pada tahapan geokimia atau metamorfik, perubahan pada batubara yang terjadi adalah penambahan kandungan karbon, pengurangan kandungan hidrogen, dan oksigen, serta menghasilkan hilangnya zat terbang. Hal ini diteruskan dengan berkurangnya air dan kompaksi, menghasilkan pengurangan volume batubara. Produk dari tahap ini adalah gas metan, karbondioksida, dan air. Semakin tinggi derajat pembatubaraan, maka akan semakin banyak gas metan, semakin sedikit karbondioksida dan air.
More about Genesa Batubara

Optimalisasi Nilai Tambah Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog

Ketika batubara hanya diperlakukan sebagai bahan energi yang dapat dibakar langsung, dicari dan dimanfaatkan dengan mudah, maka hasil yang diperoleh akan menjadi terlalu murah. Sementara apabila yang dikejar adalah nilai optimal dari manfaat batubara dimana nilai tambah berlipat ganda batubara dapat lebih banyak diupayakan, maka teknologi pengolahan dan ilmu pengetahuan tentang batubara lebih banyak yang harus kita kuasai.
Batubara tidak hanya sekedar batu alam yang apabila dibakar bisa membara mengeluarkan api untuk sumber energi, akan tetapi dapat menjadi bahan bakar gas dan bahan bakar cair yang bersih lingkungan. Selain itu batubara dapat menjadi produk bahan kimia untuk keperluan industri yang lebih hilir.
Selama ini batubara dianggap sebagai sumber daya energi tidak terbarukan kurang ramah lingkungan, yang akan segera habis apabila dimanfaatkan. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi eksplorasi, pengolahan, dan pemanfaatan batubara, maka dapat dihasilkan energi turunannya yang lebih ramah lingkungan dan diolah menghasilkan energi baru yang lebih efisien, sehingga bisa memperpanjang umur ketersediaan batubara, bahkan dengan bioteknologi dapat direkayasa menjadi energi terbarukan.

Gambar 1. Tambang batubara PT Adaro (Sumber : www.adaro.com)

Beberapa metode teknologi pengolahan untuk mendapatkan nilai optimal dari manfaat batubara antara lain yaitu : 
  • PLTU Batubara
  • Gasifikasi Batubara
  • Underground Coal Gasification
  • Pencairan Batubara
  • Upgrade Brown Coal
  • Batubara bahan Biorenewable Energy
Akumulasi nilai tambah berlipat ganda sumber daya alam tidak terjadi di tempat sumber daya alam terbentuk, melainkan di pasar atau tempat komoditas dimanfaatkan. Dari banyak negara kaya, beberapa di antaranya sangat miskin sumber daya alam, ekonominya tumbuh dan berkembang pesat dari industri dengan mengimpor bahan baku, bahkan tidak hanya membeli bahan baku akan tetapi juga memiliki konsesi untuk mengeksploitasi sumber daya alam di negara lain termasuk di Indonesia. Nilai tambah berlipat ganda dari sumber daya alam terjadi dan dinikmati negara tersebut.

Terkait dengan peningkatan nilai tambah, dalam Undang-Undang Nomor 04 tahun 2009 mengamanatkan bahwa mineral dan batubara harus diproses di Indonesia. Batubara merupakan bahan energi yang sangat murah, bahan bakar utama selain solar yang telah umum digunakan pada banyak industri. Dari segi ekonomis batubara jauh lebih murah dibandingkan solar, dengan perbandingan: solar Rp 0,74/kcal sedangkan batubara hanya Rp 0,09/kcal.

Diperlukan waktu jutaan tahun untuk proses pembentukan batubara. Sebagian besar batubara Indonesia berumur Tersier, atau sekitar 30 juta tahun. Harga Batubara Acuan (HBA) bulan April 2011 yang ditetapkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM yaitu US$ 122,02/ton atau sekitar Rp 1050/kg. Apabila mempertimbangkan proses panjang pembentukan batubara, risiko lingkungan akibat penambangan, serta merupakan energi yang tidak terbarukan, maka nilai harga jual seribu limapuluh rupiah per kilogram tersebut belum merupakan harga yang istimewa apabila misalnya kita bandingkan harga singkong sekitar Rp 4000/kg dengan waktu tanam hanya sekitar empat bulan dan bisa tumbuh nyaris tanpa memerlukan perawatan.

Ketersediaan akan energi menjadi isu global, dimana dengan pertumbuhan penduduk yang masih pesat dan munculnya negara industri baru, semakin meningkatkan kebutuhan akan energi, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun menggerakkan industri. Sumber daya batubara yang demikian besar di Indonesia merupakan komoditas yang sangat strategis, merupakan modal pembangunan dan kekuatan negara, sehingga menjadi tantangan bagi kita, tidak hanya semata digunakan langsung untuk bahan bakar, apalagi diekspor tanpa menghasilkan nilai tambah sama sekali, akan tetapi harus menghasilkan nilai tambah dan efek ekonomi berganda yang besar sebagai penggerak percepatan pembangunan.

Gambar 2. Total suplai energi dunia (Sumber: www.worldbioenergy.com)

Meskipun selama ini dianggap sebagai bahan penghasil energi yang tidak ramah lingkungan, akan tetapi batubara penyumbang kedua akan kebutuhan energi dunia. Penggunaan batubara yang demikian besar, baik penggunaan di dalam negeri maupun luar negeri, sebagai salah satu penyumbang emisi gas karbon yang akan berdampak global. Jepang dengan kebijakan lingkungannya yang sangat ketat, merupakan pengimpor batubara terbesar dari Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya.


Sumber : Suparto, J.K, 2011, Mengejar Nilai Tambah Batubara, Geomagz, Badan Geologi ESDM
More about Optimalisasi Nilai Tambah Batubara

Sulfur pada Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog on Kamis, 19 November 2015

Tipe-Tipe Sulfur pada Batubara

Sulfur pada batubara hadir dalam bentuk : sulfida, sulfur organik, sulfur elemental, dan sulfat. Bentuk yang terpenting adalah sulfida terutama pirit (FeS2), dan sulfur organik. Sulfur sulfat biasanya hanya dalam jumlah kecil yang berbentuk mineral sulfat dan terjadi akibat adanya proses oksidasi. Pada batubara dengan kandungan pirit rendah, sulfur organik juga dapat teroksidasi membentuk gipsum, atau dapat berasal dari air tanah.

Sulfur organik pada batubara dikelompokkan berdasarkan tipe gugus fungsionalnya antara lain :
  1. Merchaptan atau thiol (RSH)
  2. Sulfida atau thio-ether (RSR)
  3. Disulfida (RSSR)
  4. System aromatik yang mengandung cincin thiophene

Pembentukan Sulfur Pada Batubara

Penggabungan unsur sulfur pada batubara dapat terjadi melalui empat mekanisme (Tsai, 1982) yaitu :
  1. Kontak antara komponen organik dan sulfat.
  2. Adanya larutan yang mengandung ion Fe
  3. Pembentukan besi sulfat, dan
  4. Transformasi besi sulfat menjadi pirit dan sulfur organik.
Pada mulanya, komponen organik (rombakan tumbuhan) kontak dengan air payau atau air laut yang mengandung rata-rata 0,6% sulfat terutama MgSO4. Sulfat dari air laut diyakini merupakan sumber utama sulfur pada batubara.

Besi adalah komponen kedua yang membentuk mineral pirit. Unsur ini disuplai oleh air tawar yang mengalir masuk ke dalam rawa gambut ataupun melalui perkolasi air tanah pada rekahan-rekahan (cleats) batubara. Akses aliran air tersebut ditentukan oleh keadaan batuan samping seperti permiabilitas dan komposisi mineralnya. 

Tahap selanjutnya adalah reaksi antara besi dengan sulfat menghasilkan besi sulfat, seperti reaksi berikut ini :


Konversi besi sulfat menjadi pirit harus terjadi pada kondisi reduksi dalam medium alkali. Reaksi diawali oleh adanya aksi bakteri anaerobik (Desulfovibrio dan Desulfotomaculum) yang mereduksi sulfat sulfur menjadi hidrogen sulfida. Reaksi ini hampir sempurna pada pH medium yang lebih kecil dari 5. H2S lalu bereaksi dengan besi sulfat membentuk pirit dan sulfur elemental. Reaksi ini dapat diformulasikan sebagai berikut :


Sulfur elemental yang dihasilkan akan bereaksi dengan komponen batubara membentuk ikatan C-S. Contoh reaksinya adalah sbb :


Berdasarkan reaksi di atas, maka parameter penting yang menentukan pembentukan sulfur pada batubara adalah :
  1. Tersedianya komponen utama untuk membentuk pirit : sulfat dari air laut dan besi dari air tawar.
  2. Kemungkinan adanya larutan yang mengandung ion besi yang berasal dari batuan atap (roof).
  3. Intensitas kondisi reduksi selama pembentukan batubara
  4. Tingkat keasaman medium selama pembatubaraan.

Sumber-Sumber Sulfur Pada Batubara

Sulfur primer (S) pada batubara, dapat berasal dari air laut, air tawar, tumbuhan, dan extraneous mineral matter. Sedangkan sulfur sekunder di bawah oleh air tanah baik selama atau setelah pembentukan batubara.

Air tanah mengandung 0 – 10 ppm S dan vegetasi umumnya berkisar antara 0,01 – 0,5% S (db). Spesis tanaman yang tumbuh pada air payau kadar sulfurnya lebih tinggi dibanding dengan spesies air tawar. Sejumlah ahli menyebutkan bahwa tumbuhan tingkat tinggi memerlukan S sebanyak 0,1 %, bahkan tumbuhan angiosperma memiliki kadar sulfur rata-rata 0,4 %. Dengan demikian, maka suplai sulfur pada batubara yang berasal tumbuhan diperkirakan paling tinggi 0,5%.

Jika suatu lapisan batubara mengandung >0,5% S, maka sebagian sulfur tersebut kemungkinan berasal dari air laut yang mengandung 0,265% SO4 atau 885 ppm S (SO4 mengandung 33,4% S). Bila rawa digenangi air laut sebanyak 40 %, maka jumlah S yang disuplai adalah 0,4 x 0,265 x 0,334 = 0,035%.

Gambut yang jenuh air akan mengalami kompaksi 5x atau lebih menjadi bituminous. Bila semua sulfur dari air dikonsumsi oleh batubara, maka konsentrasi sulfur akan meningkat menjadi 0,2%. Nilai ini setara dengan 0,37 % pirit bila semua S digunakan untuk membentuk pirit.

Kebanyakan batubara yang mengandung >1%S terbentuk pada rawa yang dipengaruhi oleh air laut. Air laut densitasnya lebih tinggi dari air tawar, sehingga menarik untuk ditinjau mengapa bisa masuk pada rawa. Satu kemungkinan adalah terjadinya pasang menyebabkan influx air laut pada bagian atas rawa yang jenuh air tawar. Dengan adanya perbedaan densitas, maka air laut akan mudah bercampur dengan air tawar membentuk lingkungan rawa yang bersifat payau. Pada periode tahunan, pasang yang terjadi berkali-kali mampu mensuplai SO4 yang cukup ke dalam rawa yang dapat menjelaskan adanya kadar sulfur batubara >1%. Karena influx hanya terjadi satu atau dua kali setahun, maka hal ini tidak menghambat pertumbuhan tanaman.

Skenario lain mengenai intervensi air laut ke dalam rawa yaitu perkolasi melalui batuan pengapit yang permeabel. Model-model hidrologi percampuran antara air laut dan air tawar dapat menjelaskan mengapa kadar sulfur memiliki variasi secara lateral pada suatu seam batubara.

Air laut selain mengandung S, juga mempunyai konsentrasi unsur alkali yang tinggi seperti Na (10500 ppm), Mg (1350 ppm), K (380 ppm), Ca (400 ppm), dan Cl (1900 ppm). Unsur-unsur yang berlebih ini akan tertinggal dalam rawa. Dengan meningkatnya rank, maka sebagian unsur ini akan keluar dari sistem, sebagian lainnya terperangkap membentuk fasa mineral seperti karbonat.

Sulfur sekunder meliputi remobilisasi sulfur selama pembatubaraan, membentuk pirit epigenetik terutama pada cleat. Sulfur ini bisa berasal dari senyawa sulfur organik yang kurang stabil atau dari air pori yang kaya sulfat.

Chou (1990) menyebutkan bahwa, kebanyakan sulfur pada batubara yang kurang dari 1 % berasal dari tumbuhan asal. Sedangkan penambahan sulfur kemungkinan berasal dari air laut. Price dan Shieh (1979) menggunakan data isotop sulfur dan menyimpulkan bahwa 63 % sulfur pada batubara yang memiliki kandungan sulfur tinggi berasal dari air laut dan sisanya dari material tumbuhan.

Pembentukan Pirit pada batubara

Pirit (FeS2) mempunayi densitas 5,01 gr/cc atau sekitar 3,5 kali lebih padat dari batubara. Jadi 1 % volume pirit pada lapisan batubara dapat diartikan 3,5 % berat FeS2 atau sekitar 1,9 % berat sulfur.

Pembentukan pirit pada batubara terjadi akibat reaksi antara H2S dan Fe dalam larutan. Proses ini melibatkan bakteri yang mereduksi SO4 menjadi H2S pada pH 4.5 – 7 yang diikuti oleh penggabungan H2S, sulfur elemental dan FeO membentuk pirit dan air (Gambar 1). Hanya dengan cara ini pirit dapat terbentuk pada gambut dan batubara low-rank. Dengan demikian, kehadiran bakteri dan pH rawa merupakan faktor yang sangat menentukan pembentukan pirit. SO4 bisa berasal dari air laut atau vegetasi, sedangkan Fe kemungkinan berasal dari dekomposisi mineral lempung atau terdapat dalam larutan sebagai koloid organik yang stabil.

Gambar 1. Mekanisme pembentukan pirit framboidal dan sulfur organik pada batubara yang dipengaruhi oleh air laut (Speight, 1994).

Ketersediaan Fe dapat mempengaruhi jumlah pirit dan sulfur organik sekunder yang terbentuk. Sulfur dari H2S lebih mudah dikonvensi menjadi pirit dibanding sulfur organik. Dengan demikian, jika besi tidak tersedia maka sebagian H2S tetap dalam larutan dan keluar dari rawa. Sumber-sumber besi dapat berasal dari luar rawa terutama pada saat terjadi banjir. Flokulasi besi terjadi pada pH rendah atau pada air yang bersifat payau karena muatan listriknya akan bertambah.

Eh dan pH lingkungan yang diperlukan oleh bakteri untuk membentuk H2S akan menentukan jumlah pirit yang terbentuk. Hal ini juga berpengaruh terhadap pengawetan tumbuhan dan pembentukan vitrinit dan inertinit.

 
Gambar 2. Model pembentukan Pirit Menurut Robert (1988), Price & Shieh (1979)

Gambar 3. Model Lingkungan Pengendapan Batubara berdasarkan kandungan sulfur dan komposisi petrografi lainnya (Ryan, B & Ledda, A ., 1997). 

Diessel, 1992 mengenal 4 jenis pirit berdasarkan morfologinya yaitu :
  1. Pirit framboidal : terdiri dari kristal oktahedral, ukuran halus, speroidal
  2. Pirit euhedral : sebagai kristal yang terisolasi, mengisi sel, ukuran 1 – 10 mikron.
  3. Pirit ukuran kasar : umumnya mengelilingi fragmen maseral.
  4. Late pyrite ; pada cleat, fractures atau sebagai nodul.

Bentuk lain juga dijumpai adanya cauliflower pyrite yang berkembang dari pirit framboid dan dendritik (Foto 1 dan 2). Love, 1957 menyebutkan bahwa ada kaitan antara pirit framboidal dan mikroba dan kemungkinan bahwa pirit sebenarnya mengganti struktur bakteri.

Pirit euhedral seringkali dijumpai pada ronga-rongga desmocollinite atau mengisi sel pada semifusinite, juga dapat berasosiasi dengan mineral matter. Pirit euhedral dapat terbentuk dari presipitasi langsung FeS2 yang berasal dari sulfur elemental dan ferrous iron.

 Foto 1 & 2. Kenampakan mikroskopis pirit cauliflower & frambodal (sinar pantul 200 x)

Foto 3 & 4. Fotomikrografi Late Pirite yang mengisi rekahan (cleat) pada vitrinit

Refensi : 
- Supriadin (Genesa & Kualitas Batubara – Sulfur)
More about Sulfur pada Batubara

Pengembangan Teknologi Emisi Rendah Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog on Senin, 06 April 2015

Penangkapan dan Penyimpanan Karbon atau Carbon capture and storage (CCS), alternatif ini disebut sebagai penangkapan dan menyerap karbon, adalah cara untuk mengurangi kontribusi emisi bahan bakar fosil terhadap pemanasan global, berdasarkan pada penangkapan karbon dioksida (CO2) dari penghasil CO2 yang besar, misalnya pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan menyimpannya sedemikian rupa
More about Pengembangan Teknologi Emisi Rendah Batubara

Reklamasi Tambang Batubara

Diposting oleh Selamat datang di blog on Selasa, 24 Maret 2015

Pengertian reklamasi tambang batubara adalah rehabilitasi lahan setelah operasi penambangan batubara telah berhenti. Ini merupakan persyaratan dari Surface Mining Control and Reclamation Act (SMCRA) dari tahun 1977.




Sejarah Reklamasi

Reklamasi dari penambangan batubara berawal dari keprihatinan tentang dampak lingkungan dari penambangan strip mining. Batubara telah ditambang di Amerika
More about Reklamasi Tambang Batubara

Peralatan dan Pengelolaan Tambang

Diposting oleh Selamat datang di blog

Pada saat ini sebagian besar penambangan batubara, dilakukan dengan metode tambang terbuka, setelah digunakannya alat-alat besar yang mempunyai kapasitas muat dan angkut yang besar untuk membuang lapisan tanah penutup (over burden) batubara. Dengan demikian pekerjaan pembuangan lapisan tanah penutup batubara menjadi lebih murah dan menekan biaya ekstraksi batubara. Selain itu presentase batubara
More about Peralatan dan Pengelolaan Tambang